Byur! Air dingin mengguyur wajah Jevian dengan deras hingga ia tersentak dan langsung terduduk di tempat tidur. Rambutnya basah, piyamanya juga ikut basah kuyup. Ia memejamkan mata sambil mengusap wajah, lalu menghela napas panjang, menahan amarah yang hampir meledak. Namun begitu matanya terbuka, kemarahan itu langsung padam. Di depan tempat tidurnya berdiri seorang wanita elegan dengan tangan berdekap di pinggang. Rambutnya tersanggul rapi, memakai gaun tidur satin biru muda yang tampak sangat kontras dengan wajahnya yang kini penuh ekspresi kesal. “Selamat pagi, anakku yang paling membuat Mama sakit kepala,” ucap Briana dengan nada tinggi. Jevian hanya menatapnya dengan wajah lelah, lalu perlahan tersenyum kecil. “Mama benar-benar pakai cara ekstrem buat bangunin anak, ya?” “Ekstre

