Suara dentuman musik keras mengguncang dinding klub malam yang dipenuhi lampu berwarna ungu dan merah. Aroma alkohol dan parfum mahal bercampur di udara, menciptakan atmosfer malam yang menggoda. Di sudut ruangan VIP, Jevian duduk santai di salah satu kursi kulit hitam. Di hadapannya, beberapa gelas whiskey sudah kosong, dan asap rokoknya berputar pelan di udara seperti kabut tipis. Malam itu, ia datang bukan untuk berpesta, melainkan untuk melupakan. Bayangan wajah Arin dan Livia masih muncul di kepalanya, terutama ekspresi kecewa Livia yang menunduk dengan air mata. Biasanya, Jevian tak akan memikirkan hal seperti itu. Tapi entah kenapa, ada rasa aneh yang menekan dadanya. Ia menghela napas panjang dan mengangkat gelasnya lagi, menatap cairan keemasan itu di bawah cahaya lampu. Di saat

