Mikayla menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada mereka, tapi ia juga tidak mau Arsenio terlihat seperti penjahat berdarah dingin. “Dengar,” ucap Mikayla lembut, meraih tangan kedua temannya. “Tenang dulu. Ya, Arsenio memang bertemu dengannya. Tapi kalian harus tahu apa yang terjadi sebelumnya. Jangan salah paham, aku juga tidak menyangka Arsenio akan bertindak sejauh itu.” Liana dan Nita saling pandang, lalu kembali menatap Mikayla dengan tatapan menuntut. “Apa yang terjadi?” desak Nita. Mikayla menarik ponselnya, membuka galeri. Ia mencari sebuah video singkat yang dikirimkan Arsenio beberapa hari lalu. Rekaman buram dari kamera pengawas jalan. “Kalian ingat malam saat aku pulang dari kosan Nita dan dia minta aku naik taksi online karena sudah larut?” Nita menga

