Pagi datang bukan dengan lembut, melainkan dengan sensasi nyeri yang menyenangkan di seluruh tubuh Mikayla. Ketika ia membuka mata, Arsenio sudah duduk tegak di sofa beludru sudut kamar, mengenakan jubah mandi sutra hitam yang longgar, menikmati kopi. Pemandangan itu memabukkan. Bukan karena kopi, tapi karena lekuk tubuh Arsenio yang masih samar terlihat di balik belahan jubah, membuat Mikayla merona hingga ke pangkal paha. Ia berusaha bangun, tapi Arsenio sudah ada di sisinya. “Jangan bergerak. Aku sudah pesan sarapan,” bisik Arsenio. Suaranya masih serak, basah, dan memiliki nada yang sama seperti malam tadi—penuh kepemilikan. Mikayla mengangguk, membiarkan Arsenio menarik selimut yang hampir melorot sepenuhnya. Pria itu kini duduk di tepi ranjang, membuat aura kamar terasa makin

