Malam semakin larut ketika Mikayla akhirnya pamit pulang dari kost Nita. Sopir pribadi yang biasa menjemputnya sudah menunggu di depan, seperti biasa dengan ramah membukakan pintu mobil. Mikayla duduk di kursi belakang, memasang sabuk pengaman, lalu membiarkan pemandangan kota yang gelap berlalu di balik kaca. Sepanjang perjalanan, pikiran Mikayla tak bisa tenang. Kata-kata Nita terus terngiang-ngiangโbagaimana Andre, atau Andra, menatapnya dengan cara yang membuat Nita merasa tidak nyaman. Mikayla memejamkan mata, mengingat kembali tatapan lelaki itu di cafรฉ tadi. Ia merasa ada sesuatu yang salah, ada hawa dingin merayap di tengkuknya, membuat seluruh tubuhnya tidak nyaman. "Apa benar dia menatapku seperti itu?" batinnya berbisik. Mikayla menggenggam tas erat, perutnya terasa mual. Ia t

