Malam semakin larut. Setelah video call panas yang membakar seluruh tubuh dan pikirannya, Mikayla akhirnya terlelap dengan ponsel masih tergenggam di tangan. Rasa lelah bercampur puas membuat tidurnya begitu dalam, membawanya ke alam mimpi yang terasa sangat nyata. Dalam mimpinya, Mikayla mendapati dirinya berdiri di sebuah kamar tidur yang asing namun terasa hangat. Cahaya temaram menyinari ruangan, menciptakan bayangan lembut di dinding. Ia menatap ke arah ranjang, di sana Arsenio berdiri, menunggu dengan tubuh telanjang dan sorot mata penuh hasrat. Mikayla melangkah perlahan, tubuhnya sendiri juga tanpa sehelai benang. Ketika ia mendekat, Arsenio menarik pinggangnya, membenamkan wajah ke leher Mikayla dan menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Tangannya yang besar menjalar, merem

