Gwiyomi tidak langsung menjawab pertanyaan Vanka, ia justru mengulas senyum tipis yang sangat menganggu.
“Oh, tadi sebelum acara doa Gavin tidak sengaja menabrakku. Mungkin saja parfumnya menempel di bajuku, kenapa? Kamu takut suamimu bermain api denganku?" sahutnya tenang sekali, tidak membantah karena ingin melihat bagaimana sebenarnya wanita yang dulunya berhasil menyingkirkan dirinya dari hidup Gavin.
“Bukan, Kak Gwi. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud." Vanka tersenyum kikuk, masih cukup segan pada Gwiyomi mengingat status wanita ini lebih tua darinya.
Senyuman Gwiyomi kembali mengembang, ia mengelus lembut lengan Vanka. “Aku tahu kekhawatiranmu, Vanka. Memiliki suami yang sempurna seperti Gavin, pastinya bukan hal mudah bukan?"
“Tidak, Kak tidak begitu." Vanka menggelengkan kepalanya pelan. “Belakangan ini aku sedang kacau saja, ah maafkan apa yang aku katakan tadi."
Gwiyomi menarik sudut bibirnya, dalam hati mencibir jijik. Vanka jelas bukan wanita sepolos ini, semua yang ditunjukkan tak lebih dari topeng sandiwara. Setidaknya itulah yang Gwiyomi baca.
Gwiyomi hendak beranjak ketika tiba-tiba suara pintu toilet dibuka dengan kasar. Perhatian dua wanita itu tersita sepenuhnya, terutama Vanka yang membesarkan mata syok. Gavin keluar dari sana, bukan hanya dengan kemeja yang kusut tetapi tangan berdarah. Kini darah segar itu menetes membahasi lantai di bawahnya.
“Gavin! Apa yang terjadi?" Vanka segera berlari, mendekati suaminya dan mengecek tangan pria itu.
“Kacanya tidak sengaja hancur dan aku pegang saat ingin menangkap ular." Gavin menjawab dingin, tatapan matanya tidak mengarah ke Vanka. Melainkan pada sosok Gwiyomi yang berdiri tiga meter di depannya.
“Ular apa, Gavin? Ya ampun, ini harus segera diobati. Mbak, tolong ambilkan kotak P3K!" Vanka berteriak-teriak karena panik, menarik lengan suaminya agar segera pergi ke ruang tengah.
Teriakan Vanka itu membuat semua anggota keluarga ikut panik. Gwiyomi mengambil inisiatif, mengambil kotak P3K yang baru saja diambil pelayan. Ia menyerahkannya kepada Vanka dan duduk di samping Gavin dengan jarak yang masih aman.
“Vanka, apa tidak lebih baik dibawa ke Dokter saja? Luka luar bisa diobati, tapi luka dalam biasanya akan membusuk." Gwiyomi berbicara dengan tutur kata yang lembut, pun tatapan matanya begitu prihatin. Namun, setiap kata yang diucap membuat Gavin emosi.
Kini tangan pria itu kembali mengepal membuat darah di tangannya keluar.
“Gavin, apa yang kamu lakukan! Jangan seperti itu." Vanka kaget dengan apa yang dilakukan suaminya.
“Vanka, benar apa yang dikatakan Gwi. Bawa saja Gavin ke Dokter, takutnya ada pecahan kaca yang tertinggal atau gimana," usul Frans, disusul beberapa anggota keluarga lain.
Gavin yang didesak hanya diam, ia menatap nyalang pada Gwiyomi yang tengah mengulas senyum manisnya. Dulu senyum itu memang sangat manis, tapi kini justru seperti iblis yang menjijikan.
***
Tiga hari kemudian, Gavin sudah mulai tenang setelah indisen beberapa saat lalu. Ia sudah memikirkan banyak strategi jika sewaktu-waktu Gwiyomi akan menerornya dengan teror kacangan itu. Toh disini jika hubungan masa lalu mereka terbongkar bukan hanya dirinya yang hancur, tetapi wanita itu juga.
Ia masih bisa tersenyum pongah sebelum akhirnya asistennya muncul dengan kabar yang membuat senyuman itu pupus. Frans, sepupunya itu menggunakan haknya sebagai pemilik saham yang tertinggi dengan memasukan Gwiyomi sebagai Sekretaris Eksklusif untuk mengecek beberapa proyek mangkrak.
“Nona Gwiyomi sudah di depan, beliau ingin bertemu dengan anda, Pak." Bram memberikan kabar itu bersamaan pintu ruangan yang terbuka perlahan.
Sorot mata Gavin langsung bergerak pada wanita yang baru saja masuk itu, Gwiyomi melangkah dengan anggun memasuki ruangan. Wanita itu tidak memakai pakaian kantor formal, melainkan dress santai berwarna putih yang membuat wanita itu terlihat seperti putri salju yang polos.
“Selamat pagi Pak Gavin, aku baru tahu Presdir perusahaan Mahendra sangat buruk saat menjamu tamu." Gwiyomi berbicara lembut, tanpa menatap ke arah Gavin. Ia justru menatap kuku-kukunya yang baru saja dirawat.
Rahang Gavin mengeras dengan kedua tangan yang mengepal erat, ia memberikan gestur kepada Bram agar pergi meninggalkan ruangan.
“Jangan biarkan siapa pun masuk ke sini, Bram!" titahnya dengan nada tegas.
Begitu pintu tertutup ruangan seketika senyap, hanya deru suara AC yang terdengar. Gwiyomi yang bergerak terlebih dulu, ia melangkah mendekati meja dan berdiri tepat di hadapan Gavin. Kedua tangannya bertumpu pada meja, mengulas senyum manisnya yang nyaris seperti ledekan.
“Kenapa kamu tegang sekali, apakah kamu takut jika kinerjamu akan segera menemui titik kehancuran?" Gwiyomi tertawa rendah, ia menegakkan tubuhnya menatap setiap inci ruangan yang sangat megah itu. “Kekuasaan ini ... kamu dapatkan dari air mataku bukan?" ucapnya nyaris seperti bisikan.
Gavin masih diam memperhatikan apa yang Gwiyomi lakukan, ia yakin semakin ia menunjukkan reaksi maka Gwiyomi akan semakin menang.
“Sudah? Jika sudah, pergilah ke ruanganmu Nona Gwiyomi. Pastikan kamu bekerja dengan baik agar priamu itu tidak malu karena memasukan ular ke perusahaan ini," sergah Gavin, sengaja mengabaikan Gwiyomi dan mengambil berkas yang akan dicek.
Gwiyomi memutar bola matanya malas, ia bergerak kembali. Kali ini berdiri di samping Gavin yang berpura-pura fokus itu. Ia menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja yang sangat dekat dengan tangan Gavin, aroma parfumnya dan aroma mawar itu menyeruak membuat pria itu sedikit oleng.
“Kamu serius sekali, apa kamu sebegitu takutnya denganku sampai tidak berani menatapku?" Gwiyomi berbisik, mengulurkan tangannya yang halus pada ujung tangan Gavin.. “Kamu tidak sedang menahan perasaanmu 'kan?" Tangan itu berhenti tepat pada telinga Gavin, ia mengusapnya lembut.
Gavin membanting berkas di depannya kasar lalu tanpa pikir panjang menarik pinggang Gwiyomi hingga wanita itu berbalik dan duduk di pangkuannya. Kedua tangannya mencengkram erat pinggang Gwiyomi serta dagunya.
“Kamu pikir dengan diamku bisa semena-mena? Jangan harap itu terjadi." Gavin mengeram rendah, ia berusaha tetap waras di antara godaan mawar yang duduk di pangkuannya.
Gwiyomi kembali tersenyum, kali ini penuh kemenangan telak. “Gavin...” Suara Gwiyomi berubah melembut, kedua tangannya memeluk leher pria itu mesra. Ia mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan, membiarkan Gavin menghirup napasnya yang terasa seperti candu.
Gavin sudah kehilangan akal sehatnya. Persetan dengan janji, persetan dengan harga diri. Ia meraup bibir Gwiyomi dengan beringas, sebuah ciuman yang sarat akan kemarahan dan rasa haus yang tertahan bertahun-tahun. Ia melumatnya kasar, menuntut balasan, sementara tangannya meremas pinggang Gwiyomi hingga wanita itu memekik tertahan.
Gwiyomi membalasnya sesaat, menyesap bibir Gavin dengan gairah yang sama besarnya. Ciuman pria itu turun ke leher dan dibalas dengan cara yang sama oleh Gwiyomi. Namun, tepat saat tangan Gavin mulai bergerak liar hendak menyingkap gaun putih itu, Gwiyomi tiba-tiba menarik diri.
Ia menjauhkan wajahnya, lalu tertawa kecil tepat di depan bibir Gavin yang masih basah.
"Cukup, Gavin. Kamu sudah mendapatkan sampel-nya," bisik Gwiyomi dengan nada merendahkan yang sangat tajam.
Ia mendorong d**a Gavin hingga pria itu terhenyak di kursinya, lalu berdiri dengan anggun. Dengan gerakan sangat pelan dan provokatif, Gwiyomi mengusap bibirnya dengan punggung tangan, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Ternyata benar kata orang. Sesuatu yang didapatkan dari hasil mencuri memang terasa lebih nikmat ya? Pantas saja kamu betah berselingkuh dari istrimu," lanjutnya sambil merapikan gaun putihnya yang sedikit kusut.
Gavin mengepalkan tinjunya, napasnya memburu hebat. "Kamu yang memancingku, Gwiyomi! Kamu sengaja masuk ke sini untuk ini, kan?!"
Gwiyomi berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Gavin dengan tatapan dingin yang mampu membekukan darah.
"Aku masuk ke sini untuk bekerja, Gavin. Kamu yang tidak bisa menjaga imanmu sendiri." Gwiyomi menyunggingkan senyum iblisnya. "Oh, satu lagi. Jangan lupa bersihkan bekas lipstikku di lehermu. Aku tidak mau Vanka datang ke sini dan mengira suaminya baru saja digigit ular berbisa."
Gwiyomi membuka pintu dan melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Gavin yang terengah-engah dalam kehampaan.
Gavin memukul meja kerjanya dengan tangan yang masih berbalut perban hingga darah kembali merembes keluar.
"Sialan! b******k!" umpatnya tertahan.
Di luar ruangan, Gwiyomi bersandar sejenak di dinding koridor. Ia memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena adrenalin balas dendam yang mulai memuncak.
Nikmati saja bibirku hari ini, Gavin. Karena itu hanya uang muka sebelum kehancuranmu yang sesungguhnya tiba. Tik, tok, tik, tok ... hitungan mundur dimulai.
Happy Reading
TBC