Bab 4. Benci Atau Takut?

1027 Words
Gwiyomi melangkah ke ruang belakang setelah acara berdoa usai, ia berniat menghubungi kantor tempatnya bekerja untuk mengambil cuti. Namun, ketika sampai di dapur tiba-tiba pinggangnya ditarik dengan kasar hingga masuk ke dalam toilet dapur. “Akh!" Suara teriakan Gwiyomi teredam dengan cepat ketika pintu ditutup dengan kasar. Tubuhnya langsung dihimpit oleh tubuh tegap Gavin yang begitu dominan, tatapan mata pria itu sangat gelap seolah menguliti Gwiyomi habis-habisan. Gwiyomi masih kaget untuk sepersekian detik, namun setelahnya ia menyeringai sinis. Dengan napas yang masih tersengal-sengal ia berbicara. “Apa ini, Adik Sepupu? Kamu sedang mencoba bermain api denganku?” Suara Gwiyomi mengalun lembut, nyaris tanpa emosi, sebuah kontras yang provokatif. Gavin yang sudah di puncak geram langsung mendaratkan tangannya di leher Gwiyomi. Cengkeramannya kuat, tidak sampai mencekik mati, tapi cukup untuk membuat Gwiyomi merasa terdesak. “Kamu yang sedang bermain api, Gwi! Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu incar? Status? Uang? Sebutkan angkanya!” desis Gavin, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ternyata benar, tak ada yang berubah dari Gavin. Pria ini masih menganggap jika semua bisa dikendalikan dengan uang dan kekuasaan. Masih dengan senyum yang tersungging, Gwiyomi menjawab pelan bersamaan dengan tangan yang merayap pada dadanya. “Kenapa aku justru merasa kamu yang sedang ketakutan, Gavin?” bisiknya tepat di depan bibir Gavin. “Tenang saja. Aku tidak akan membocorkan dosa kita pada istrimu… jika itu yang membuat nyalimu menciut.” Cengkeraman Gavin di lehernya mengendur, namun sebagai gantinya, tangan besar itu berpindah ke pinggang Gwiyomi, menariknya begitu kuat hingga tidak ada lagi udara yang tersisa di antara mereka. “Siapa bilang aku takut?” Gavin mendekatkan wajahnya ke telinga Gwiyomi, suaranya serak dan berbahaya. “Aku justru ingin Vanka dan Frans tahu, bahwa wanita yang akan masuk ke keluarga ini hanyalah seekor ular yang menjijikkan.” “Jika aku ular, lalu kamu apa, Gavin?” Gwiyomi membalas dengan nada yang sama menggodanya. “Serigala? Atau… anjing peliharaan yang lehernya diikat erat oleh orang tuanya supaya tidak menggigit sembarangan?” “Lancang!” Bruk! Dengan gerakan kilat, Gavin membalikkan tubuh Gwiyomi hingga wanita itu membungkuk menghadap wastafel. Ia menekan punggung Gwiyomi dengan tubuhnya, sementara tangan satunya menarik tengkuk wanita itu agar wajah mereka sejajar di pantulan cermin. Perpaduan yang sempurna, pria dengan mata hitam kelam dan wanita dengan sorot mata tajamnya. Bibir Gwiyomi terbuka sedikit membentuk senyum tipis yang membuat dunia Gavin kian tak beraturan. “Kenapa? Kita ini ... pasangan yang serasi bukan?" Gwiyomi mengulurkan tangannya, mengusap dagu Gavin lembut sekali. Mata Gavin terpejam, bangsatnya sentuhan lembut itu sedikit mengalihkan kemarahan yang tadinya meluap-luap. Kepalanya menunduk tanpa diminta, menghirup aroma mawar segar dari tubuh Gwiyomi. Aroma ini ... aroma yang selama ini aku rindukan. Tanpa sadar cengkeraman tangan Gavin pada pinggang Gwiyomi mengetat, ia menundukkan wajahnya lebih dalam untuk mencium bahu Gwiyomi. Sayangnya, sebelum itu terjadi Gwiyomi sudah lebih dulu bergerak melepaskan dirinya. Ia sedikit mendorong Gavin hingga pria itu terhentak pada dinding sempit toilet. Kedua mata Gavin melotot tajam, hanya dibalas senyum simpul oleh Gwiyomi. Wanita itu mendekat, mengusap dagu Gavin hingga mendongak. “Jangan bilang tebakanku benar, kamu masih punya perasaan yang sama denganku?" Gwiyomi bertanya lembut, sendu tatapan matanya dan ia yakini mampu membuat Gavin tak bergutik. “Mimpimu terlalu tinggi, Gwiyomi." Gavin tersenyum remeh, menepis tangan Gwiyomi kasar. Gwiyomi tidak marah, ia melesat memandang ke arah cermin lagi dan membenarkan rambutnya yang kusut dengan tenang. Dengan gerakan yang dibuat sepelan mungkin, Gwiyomi menggulung rambutnya yang panjang memperlihatkan tengkuk putih mulus miliknya. Gavin merasa darahnya mendidih. Wanita ini adalah obsesinya, luka lamanya, sekaligus hidangan terlarang yang kini disuguhkan tepat di depan matanya. “Setelah malam itu…” Gavin menggantung kalimatnya. Ia ingin memaki, namun suaranya justru terdengar goyah. “Lupakan.” “Kenapa, Gavin?” Gwiyomi menyalakan keran, membiarkan air mengalir di sela-sela jarinya. “Kamu berharap aku hamil? Seperti drama murahan di novel-novel?” Ia mematikan keran, lalu dengan gerakan tak terduga, ia menyentilkan sisa air di tangannya tepat ke wajah Gavin yang tengah mengeras. “Gwi—” “Berhentilah bermimpi. Kamu mungkin yang pertama, tapi aku pastikan tidak akan ada sedikit pun bagian dari dirimu yang menyatu dengan tubuhku. Mengerti?” Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang namun penuh racun. “Kamu pikir aku sudi punya anak dari w************n sepertimu?” maki Gavin, suaranya bergetar menahan emosi. “Dan w************n inilah yang akan menjadi kehancuran masa depanmu," balas Gwiyomi dingin, mendorong tubuh Gavin hingga menyingkir dari pintu kemudian berlalu begitu saja. Gavin yang kelewat emosi langsung meninju kaca wastafel di depannya, kali ini ia benar-benar marah! “Sialan kamu, Gwi. Jangan harap kamu bisa bebas mempermainkanku!" *** Gwiyomi melangkah meninggalkan dapur dengan langkah yang dibuat setenang mungkin. Ia merasakan tangannya masih gemetar setelah konfrontasi bersama Gavin tadi, ia masih bisa merasakannya. Rasa cinta itu, kerinduan sekaligus kebencian yang menyatu dengan sangat gilanya. Sebisa mungkin Gwiyomi bertahan, bukankah sangat lucu jika ia menyerah di babak pertama yang bahkan baru saja dimulai. Gwiyomi melangkah cepat hingga tak sadar ada Vanka yang hendak ke dapur, keduanya tak sengaja bertabrakan sekilas. “Aduh, Kak Gwi. Astaga maafkan, aku terburu-buru tadi." Vanka berseru kaget, berusaha memegang tangan Gwiyomi yang hampir terhuyung. “Tidak apa-apa, aku juga tidak berhati-hati tadi." Gwiyomi tersenyum samar, kembali memakai topeng lembutnya lagi. “Kak Gwi dari dapur? Lihat Gavin nggak?" tanya Vanka kemudian. Gwiyomi terdiam sejenak, melirik ke arah toilet yang baru saja ditinggalkan. Ia kemudian menggeleng pelan. “Aku tidak melihat," dusta Gwiyomi. “Duluan, Vanka." Ia berniat berlalu namun lengannya tiba-tiba ditahan oleh Vanka. Gwiyomi menekuk dahinya, memandang Vanka yang menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan. Wanita itu memperhatikan Gwiyomi dari atas sampai bawah seolah-olah sedang mengulitinya. “Ada apa lagi, Vanka?" “Kak Gwi benar-benar tidak melihat Gavin?" Vanka kembali beryanya, namun nada suaranya berbeda dari pertanyaan yang pertama. “Iya tidak lihat. Untuk apa aku berbohong?" Gwiyomi mengernyitkan dahi lebih dalam, menebak apakah Vanka sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi antara mereka? Vanka tiba-tiba menarik tangan Gwiyomi hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan. Gwiyomi baru saja membuka mulut dan protes ketika tiba-tiba saja Vanka kembali melontarkan pertanyaan yang membuat tubuh Gwiyomi menegang hebat. “Tapi kenapa aku mencium aroma parfum Gavin di tubuhmu, Kak?” Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD