Bab 2. Sepupu Adalah Maut?

1223 Words
Ulang tahun Frans digelar di sebuah ballroom private yang hanya dihadiri beberapa keluarga dekat saja. Secara silsilah Frans adalah anak dari Kakak Ayahnya Gavin, selisih umurnya dengan Gavin hanya terpaut 5 tahun. Keluarga mereka sama-sama pengusaha, tetapi Frans memilih jalannya sendiri dengan menjadi dosen di Universitas Singapura. Berbeda dengan Gavin yang hanya ingin duduk di zona nyaman, menjadi pewaris tahta di perusahaan tetapi dengan jaminan menikah bisnis dengan Vanka. Kini semua orang tengah berkumpul di meja makan yang telah dipesan dengan Kakek Mahendra yang duduk di ujung sebagai tetua. Baik Frans dan Gavin sama-sama anak tunggal. “Frans ini suka ilang kabar, sekalinya pulang ngasih kabar mengejutkan. Calon istrinya orang mana, Om?” tanya Gavin iseng, mereka tengah bermain kartu sembari menunggu Frans datang. “Orang deket aja, Gavin. Katanya dulu adik kelasnya kampus gitu,” jelas Daniel—papanya Frans. “Oh, berarti ini pertama kalinya kalian bertemu?” tanya Gavin lagi, entah kenapa sangat penasaran sekali saat ini. “Enggak, kita udah pernah ketemu waktu berkunjung ke Singapur, Gavin. Untuk itulah kami suruh mereka pulang, udah pacaran lama ngapain sembunyi-sembunyi terus,” sahut Daniel lagi. “Hahaha Om benar sih. Tapi ini seriusan? Nggak ada kriteria calon mantu?” Daniel justru tertawa kecil. “Yang penting anaknya cinta ajalah Gav, soal duit kan bisa dicari.” Kali ini Gavin yang tertawa, hambar sekali karena itu seperti sindiran keras bagi Papanya. Ia melirik ke arah Papanya yang bergeming, seolah tak peduli dengan sindiran itu. Gavin tersenyum masam, bagi Papanya pernikahan tetap saja harus mendapatkan keuntungan, masalah cinta bisa nanti-nanti. Hampir setengah jam berlalu, akhirnya sosok yang ditunggu datang. Pintu ruangan terbuka, menampakkan sosok pria gagah dengan kemeja putihnya. Di samping pria itu berisik seorang wanita dengan rambut kecoklatan yang sangat cantik, menggunakan gaun merah yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. “Selamat malam, semuanya. Maaf kami terlambat,” ucap Frans tersenyum pada anggota keluarga lalu ke arah sampingnya. “Ayo, itu keluargaku,” ajaknya. Wanita itu balas tersenyum kemudian matanya tertuju pada sosok Gavin yang membesarkan mata lebar-lebar. Kedua tangan pria itu mengepal tanpa sadar dengan detak jantung yang tak beraturan. Setiap langkah wanita itu mendekat seperti pukulan keras di kepala yang memaksa Gavin untuk lupa dengan semua orang di sekitarnya. “Gwiyomi …” Gwiyomi tersenyum tipis, ia melangkah dengan dagu terangkat. Menunjukkan wajahnya yang cantik, mata indah dan bibir belah yang menggoda. Ia tahu akan kapasitas dirinya dan ia sangat memanfaatkan hal itu. Saat Gwiyomi berjalan melewati Gavin ia melirik pria itu dan memberikan senyum bergula yang membuat pria itu wajahnya kian merah padam. “Cucuku.” Kakek Mahendra memanggil. “Kakek, perkenalkan ini Gwiyomi. Calon istri Frans,” kata Frans dengan bangga merengkuh pinggang Gwiyomi tepat di samping Gavin. “Cantik,” puji Mahendra. “Terima kasih, Kakek.” Gwiyomi membalasnya dengan senyum tipis. “Gwi, Sayang. Ini keluarga kami, ayo kenalan juga.” Nyimas—mamanya Frans sambil menunjuk keluarga lain yang duduk di meja itu. Pandangan Gwiyomi beralih kepada keluarga Cemara itu. Papa dan Mama yang berkharisma dengan anak laki-laki yang mempesona, tak lupa menantu cantik yang pastinya setara. “Salam kenal, saya Gwiyomi." Gwiyomi membungkuk setengah bedan memberikan salam. “Wah, dia ternyata benar-benar cantik seperti ceritanya Nyimas. Tidak usah sungkan-sungkan Gwi, kita akan jadi keluarga juga," sahut Sandra—mamanya Gavin. “Ini kenalkan, Vanka. Menantuku, semoga kalian nanti dekat ya?" lanjutnya sambil menunjuk Vanya di sampingnya. “Halo, Kak Gwi. Kayaknya kita perlu ruangan khusus supaya aku bisa tahu, gimana caranya kamu naklukin sepupuku yang super dingin ini," kelakar Vanka sambil mengerling menggoda Frans. Ucapan Vanka itu disambut tawa keluarga besarnya, kecuali Gavin. Pria itu diam seribu bahasa namun kepalanya berisik luar biasa.Banyak tanya besar di otaknya, bagaimana bisa Gwiyomi tiba-tiba kembali dan akan menjadi bagian keluarganya? Ini jelas bukan sebuah kebetulan. Sepanjang acara makan malam dan perayaan ulang tahun Frans, tatapan Gavin tak lepas sedikit pun dari Gwiyomi. Wanita itu sudah banyak berubah, dia bukan lagi Gwiyomi yang lugu dan kepala menunduk. Malam ini Gwiyomi yang datang adalah sosok wanita cantik yang begitu dominan dalam segala hal. Bahkan Vanka sejak tadi tak henti mengoceh dan Gwiyomi dengan tenang menanggapinya. “Oh jadi dulu ketemunya pas lagi liburan? Wah, asyik dong liburan bareng." Vanka berseru heboh. “Iya, Gwi ini jago loh kalau naik gunung. Biasanya cewek 'kan males ya, tapi dia bisa sampai puncak Semeru," jawab Frans menyelipkan sulur rambut Gwiyomi dengan seulas senyum bangga. “Namanya juga sakit hati, Frans. Kamu tahu 'kan kalau hati wanita udah sakit, manjat gunung pun nggak kerasa," sahut Gwiyomi renyah, namun tatapan matanya ditunjukkan pada Gavin yang sejak tadi terus menatapnya. “Benar begitu adik sepupu?" Sengaja ia melempar pertanyaan pada Gavin yang membuat semua mata langsung tertuju pada pria itu. “Sakit hati?" Gavin menarik sudut bibirnya, menegakkan tubuh dengan tenang. “Maaf Kakak sepupu, untuk barisan ini tidak ada dalam kamusku. Karena istriku tidak pernah membuatku sakit hati," imbuhnya tak kalah lembut, justru dengan sengaja menarik tangan Vanka lalu menciumnya tepat di hadapan Gwiyomi. “Kamu ingin bermain, Gwi? Mari kita lihat, permainan apa yang cocok untuk kita ini?" Gwiyomi balas tersenyum tak kalah manis, dia tetap tenang dan justru menikmati obrolan lain dengan Frans. Sepenuhnya memutus intensitas antara dirinya dan Gavin. Nyatanya hal itu justru sangat mengusik Gavin. Pria itu menatap bagaimana cara Gwiyomi tersenyum pada Frans dengan sangat manis. Bagaimana tangan indah itu digenggam oleh Frans atau sekadar usapan di pipi. Pikiran Gavin liar, apakah wanita di depannya ini juga pernah memberikan hal yang tiga tahun lalu diberikan padanya? Hati Gavin panas tak tahu kenapa, tak seharusnya seperti ini tapi Gwiyomi benar-benar memenuhi otaknya saat ini. Saat acara selesai, hujan deras masih mengguyur Jakarta. Gwiyomi diminta menginap di rumah utama keluarga, karena kebetulan besok akan ada acara doa bersama mengenang kepergian Nenek buyut mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 pagi saat Gavin turun ke dapur untuk mengambil minum, tak disangka ia menemukan Gwiyomi di sana. Wanita itu menggunakan bathrobe mandi dengan rambut yang setengah basah dibiarkan terurai. Deg Jantung Gavin seperti berhenti berdetak, ia melangkah pelan. “Apa ini juga sebuah kebetulan, Gwiyomi?" Gwiyomi langsung menoleh saat mendengar suara Gavin, tak ada emosi apa pun di wajah itu. Justru ada senyum tipis yang tak terlalu terlihat, ia segera mengambil tumbler yang baru saja diisi air minum. “Kamu berharap ini kebetulan, adik sepupu?" Gwiyomi menjawab, namun sengaja memberikan batasan dengan sebutan adik sepupu. Gavin mengeraskan rahang, tak tahan lagi dengan sikap acuh tak acuh Gwiyomi ini. Ia merangsek maju, memojokkan wanita itu hingga punggungnya membentur kulkas di belakangnya. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di otakmu? Licik, kamu wanita licik. Apa yang sedang kamu rencanakan!" bentak Gavin enggan berbasa-basi lagi. Gwiyomi sama sekali tidak gentar, senyumnya masih sangat tenang. “Aneh sekali, kenapa kamu sepanik ini sih? Aku tebak, apa malam itu berhasil membuat seorang Gavin Mahendra takut dalam bayang-bayang dosa?" Gwiyomi mendekatkan wajahnya, menyentuh telinga Gavin dengan bibirnya yang basah. “Atau ... kamu selalu terbayang malam panas kita berdua?" “Lancang kamu, Gwi!" Gavin menarik pinggang Gwiyomi kasar hingga tubuh mungil itu terhentak ke arahnya. “Malam itu tidak ada yang spesial!" bantahnya. Gwiyomi tersenyum remeh. “Benarkah? Kamu yakin tidak ingin mengulanginya lagi denganku?" Ia berbisik rendah, tangannya turun menuju d**a dan ke perut Gavin yang rata dengan gerakan sensual. Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD