Bab 3. Neraka Kehancuranmu

1104 Words
Tangan Gwiyomi turun terus mengusap perut rata Gavin, namun sebelum tangan itu melangkah jauh ia segera menyambarnya lalu menarik satu paha Gwiyomi hingga mendekat. “Jalang sialan! Kamu benar-benar sedang berurusan dengan orang yang salah!" Gavin mengeram rendah, mencoba tak bisa dikendalikan meski aroma mawar dari tuhhh Gwiyomi menguar tajam. Gwiyomi mendongak, menunjukkan lehernya yang jenjang yang menggoda. Ia membahasi bibir perlahan. “Jalang? Haruskah aku mengingatkan jika tiga tahun lalu kamu yang merobek selaput darahku," bisik Gwiyomi berbalut desahan nakal, bibirnya mendekat pada telinga Gavin yang merah. “Aku bahkan masih sangat ingat saat kamu berbisik jangan menangis malam itu." Gavin memejamkan matanya erat, mencoba menahan bayangan masa lalu yang pernah mereka lalui. Yang didapatkan bukan apa yang diinginkan, justru bayangan dimana Gwiyomi pasrah di bawahnya, bagaimana tangan Gwiyomi melingkari tubuhnya dengan desahan yang seksi. Gwiyomi menarik sudut bibirnya melihat ekspresi pria itu. Tangan yang semula pasrah kini mendorong bahu Gavin dengan kasar. “Jaga sikapmu adik sepupu, aku bisa melaporkan ini ke Frans," ucap Gwiyomi lirih, tatapan penuh godaan tadi berubah menjadi kesedihan. Kedua mata Gavin membeliak syok, bagaimana bisa hanya dalam hitungan detik Gwiyomi memasang dua wajah yang berbeda. Gavin mengeram marah, semakin tak terima karena Gwiyomi berusaha mempermainkan emosinya. “Kamu—" “Gwiyomi, sudah minumnya?" Suara Gavin tertelan di kerongkongan tatkala Frans tiba-tiba muncul. Gwiyomi tidak panik, ia justru melepaskan dirinya dengan lincah lalu berjalan mendekati Frans yang menatapnya penuh selidik. “Kalian?" Frans menatap Gwiyomi dan Gavin bergantian. “Ah Frans, ternyata aku baru ingat. Gavin ini dulu teman SMA-ku, pantaslah aku merasa dia tidak asing." Bualan itu meluncur dengan renyah dari bibir Gwiyomi, jemarinya yang lentik mencengkram lembut lengan Frans dan memeluknya. “Teman SMA?" Frans masih mengernyit. “Benar itu, Gavin?" Gavin mengumpat dalam hatinya. Ternyata wajah polos yang dulu dikendalikan menyimpan sisi iblis yang menjengkelkan. Gavin masih terus menatap Gwiyomi, sampai akhirnya mata itu tertuju pada genggaman tangan Gwiyomi di lengan Frans. “Sesuai kepercayaanmu saja, Frans. Sepertinya wanita ini sudah membuatmu tergila-gila," sergahnya tak bisa mengendalikan emosi. “Tentu saja." Frans tertawa kecil, merengkuh pinggang Gwiyomi dengan mesra. “Aku sudah menandainya saat dia masih menulis Skripsi di kampus, Gavin. Mana mungkin aku lepaskan," ucapnya tak menutupi rasa bangga, bahkan mengecup lembut pelipis Gwiyomi. “Gombal," balas Gwiyomi manja. Pemandangan itu jelas membuat hati Gavin panas. Ia tak tahu kenapa namun seperti terbakar sendiri melihat kemesraan keduanya. Tak ingin menunjukkan hal itu, ia segera melangkah meninggalkan dapur. Gavin sempat terhenti ketika berada di samping Gwiyomi, menatap wanita itu tajam. “Semoga kamu tidak sedang memelihara ular, Frans." Suara Gavin rendah, namun penuh penekanan dengan sindiran yang tersirat. Frans menekuk dahinya lebih dalam, ingin bertanya lagi tetapi bayangan Gavin sudah lebih dulu menghilang. Sementara Gwiyomi justru mengulas senyum tipis di wajah cantiknya. “Selamat datang di neraka kehancuranmu, Gavin Mahendra." *** Gavin menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa, menatap langit-langit kamar dengan perasaan berkecamuk tak karuan. “Aku bahkan masih sangat ingat saat kamu berbisik jangan menangis malam itu." Ucapan Gwiyomi kembali terdengar, berputar seperti kaset rusak di kepala Gavin. b*****t! Jelas ini tidak bisa dibiarkan, wanita itu hanya sampah yang tak sepantasnya ia pikirkan lagi. Ia mencoba memejamkan mata, namun yang ada justru bayangan liar di benaknya. Menduga apakah Gwiyomi sudah melakukan hal-hal menyenangkan dengan Frans? Atau mungkin saat ini ... mereka sedang melakukannya? “b******k!" Ia mengumpat dan memukul kasur di bawahnya dengan gerakan brutal. “Gavin, apa sih ganggu banget?" Vanka yang tadinya sudah tertidur terusik, ia membuka mata memandang Gavin yang berwajah dingin itu. “Kenapa? Ada masalah di kantor?" Sebagai istri ia sangat mengerti akan hal ini, ia memutar tubuhnya melingkar pada pinggang Gavin mesra. Gavin melirik tangan Vanka yang ada di pinggangnya, kemudian memandang wajah cantik Vanka. Ya, wanita ini adalah pilihannya. Ah tidak, lebih tepatnya Vanka adalah wanita yang dipilihkan kedua orang tuanya untuk mempertahankan tahta perusahaan. Tak ada yang kurang dari Vanka, cantik, berpendidikan dan pastinya punya segalanya. Namun, entah kenapa Gavin merasa begitu hambar. Sentuhan tangan Vanka merambat naik, mengusap d**a Gavin dan berusaha melepaskan kancing piyama pria itu. “Mau aku bantu lebih rileks?" Vanka berisik rendah, mendekat dan mulai menciumi leher suaminya. Gavin memejamkan matanya, mencoba menikmati kecupan demi kecupan kecil itu. Sialnya, aroma mawar dan leher jenjang Gwiyomi di dapur tadi berlarian di otaknya. Tangannya tanpa sadar mencengkram tangan Vanka hingga wanita itu kesakitan. “Gavin ahh ... kamu mau bermain kasar, Beib?" Desah Vanka membahasi bibir menggoda. Gavin membuka matanya kembali lalu menghempaskan tangan Vanka perlahan. “Aku ngantuk, Van. Nggak usah macem-macem," ketusnya memutar tubuh membelakangi Vanka. Vanka memanyunkan bibirnya kecewa, sudah sering Gavin seperti ini. Pria ini benar-benar hanya akan menyentuhnya jika sudah terdesak keadaan, jika sedang waras sepertinya Gavin enggan menjamah tubuhnya. Tidak masalah bagi Vanka, karena seberapa usaha Gavin untuk menolak akhirnya akan sama saja. Gavin tetap miliknya. Keesokan paginya, suasana rumah megah itu sangat khidmat karena ada acara doa bersama mengenang nenek buyut yang telah tiada. Acara doa bersama dimulai dengan khidmat. Keluarga besar Mahendra berkumpul melingkar. Vanka duduk di samping Gavin, menggandeng lengan suaminya seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Di depan mereka, Frans duduk dengan bangga sambil merangkul pundak Gwiyomi. Saat semua orang menundukkan kepala, khusyuk dalam doa yang dipimpin sang Kakek, Gwiyomi mulai melancarkan aksinya. Sengaja, ia sedikit memundurkan posisi duduknya hingga lututnya bersentuhan dengan kaki Gavin di bawah meja. Tidak berhenti di situ, ujung jari Gwiyomi yang lentik merayap, masuk ke sela-sela antara Gavin dan Vanka, lalu dengan berani mengusap paha Gavin di balik celana kainnya. Gavin tersentak, napasnya tertahan. Ia melirik istrinya, Vanka, yang masih menutup mata dengan khusyuk berdoa. Di sisi lain, ia melihat Frans yang juga sedang berdoa dengan tulus. Hanya dia dan Gwiyomi yang sedang bermain di tengah kesucian doa itu. Gwiyomi sedikit mendongak, matanya bertemu dengan mata Gavin yang memerah. Ia memberikan senyum yang sangat tipis, sebuah senyum kemenangan. Gerakan tangannya semakin berani, seolah menantang Gavin. “Pilih sekarang, istrimu yang sah atau dosa masa lalumu?” Begitu doa selesai, Gwiyomi menarik tangannya dengan anggun, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Amen," ucap Gwiyomi lembut, lalu menoleh ke arah Vanka. "Vanka, gaunmu cantik sekali pagi ini. Cocok banget mendampingi Gavin." Vanka tersenyum tulus, tidak tahu kalau wanita di depannya baru saja mengelus paha suaminya. "Terima kasih, Kak Gwi. Kakak juga cantik sekali pakai putih." Gavin bangkit berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit nyaring. "Aku ke toilet sebentar," pamitnya dengan suara parau, tanpa berani menatap mata siapa pun. Di belakangnya, Gwiyomi menatap punggung Gavin yang menjauh dengan tatapan tajam. "Baru segitu saja kamu sudah gemetar, Gavin? Permainan ini baru saja dimulai." Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD