Fajar menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari kamar yang masih berantakan dengan sisa-sisa pergulatan semalam. Gavin terbangun lebih dulu. Kesadarannya perlahan pulih, dan rasa hangat dari tubuh wanita di pelukannya membuat jantungnya berdenyut aneh, campuran antara kepemilikan dan rasa bersalah yang menusuk. Ia menoleh, menatap punggung polos Gwiyomi yang dihiasi tanda merah dan bekas cengkeraman tangannya semalam. Gwiyomi sudah bangun, matanya terbuka menatap lurus ke arah jendela, namun tatapannya kosong, seolah jiwanya sedang tidak berada di sana. Gavin menggeser tubuhnya mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Gwiyomi dan menariknya ke dalam dekapan posesif. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Gwiyomi, menghirup aroma rambutnya yang kusut, lalu mendaratkan c

