Bicara Tanpa Benci

2844 Words

Harapan itu terasa nyata, namun Satya tahu bahwa mendamaikan hati seorang anak yang terlanjur luka tidak semudah membalik telapak tangan. Begitu sambungan telepon berakhir, Luca masih sesenggukan kecil di pelukan Hansika, memegangi ponsel Satya seolah benda itu adalah satu-satunya jembatan menuju ibunya. “Mama sayang aku, Aunty dengarkan tadi?” “Iya, jelas dong. Mama pun bahkan Papa sayang Luca.” Hansika terus menenangkan Luca. Satya membalikkan tubuh dari jendela, mendekati istri dan keponakannya. Ia berjongkok, menjajarkan tingginya dengan Luca. “Sudah lega setelah bicara dengan Mamamu?” tanya Satya pendek namun lembut. Hansika memerhatikan suaminya. Luca mengangguk, menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Mama bilang... Papa enggak maksud marah ke aku. Papa lagi capek, jad

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD