Perlindungan yang nyaman [2]

2361 Words

“Dia bangun, Mas...” bisik Hansika saat menemukan Luca sudah duduk, mengucek matanya sesaat sambil mengingat kamar yang ditempati bukan miliknya, bukan pula salah satu kamar di rumah Leif melainkan kamar paman dan istri pamannya. “Uncle...” suaranya serak, mencari Satya pertama kali. Satya langsung menghampiri. Hansika memberi kesempatan sambil ia melihat bagaimana Satya menghampirinya, lalu menyapa dengan sikap hangat. Pemandangan yang langsung membuat jantung Hansika menghangat sekali—terbayang Satya dimasa depan bersama putra mereka. Ia berjalan mengambil sebuah remote kecil, mengatur tirai terbuka otomatis. Sinar matahari pagi langsung menyinari kamar, terdengar tawa kecil Luca yang sedang diajak bicara dengan Satya. “Bagaimana tidurnya, Luca?” tanya Satya sambil mengusap kepal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD