Satya serius degan membeli cincin yang ia sampaikan pada Pasha. Terlintas begitu saja, dan kini sudah ia miliki. Pertama kali untuknya masuk ke toko perhiasan dengan brand ternama yang disarankan Pasha. “Aku sudah dekat, Pasha...” Beritahunya pada Pasha yang meneleponnya. Menanyakan keberadaan Pasha. “Kami menunggumu, terutama Mamaku. Senang sekali, akhirnya kamu mau berkunjung.” Ungkapnya. Lalu pembicaraan ditelepon berakhir. Perjalanan ditemani pergolakan batin Satya bahkan sampai saat ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah pagar besi yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Ini adalah rumah Farhan, paman Pasha. Bangunan sederhana, rumahnya bukan yang mewah tapi nyaman. Halamannya cukup luas, tepat di samping kanannya adalah rumah Ibu dari Pasha yang tinggal bersama suaminy

