Izz yang tiba bersama Amara, segera diajak bergabung duduk di meja makan bersama. Begitu ada kesempatan, Hansika menarik Satya segera pindah kesisinya saat Papi lebih fokus bicara dengan menantu perempuannya. Seluruh atensi jatuh pada Amara yang sesekali menyeka air mata yang tetap jatuh, lalu tatapan Hansika jatuh pada Izz yang terus memegangi tangannya. Cara menenangkan serta tatapan Izz, membuat semua pasang mata di sana melihat bahwa pernikahan ini bukan hanya bentuk tanggung jawab tetapi ada cinta dimata kembaran Hansika. “Mami yang sudah bicara dengan Ibundamu, kalau kamu akan istirahat... bermalam dulu di sini. Besok setelah sarapan, kalian baru bisa melanjutkan perjalanan ke Semarang. Mami-Papi ingin sekali ikut menemani, tetapi karena tanggung jawab kami pada pekerjaan... teruta

