Hari ini pernikahan Satya dan Hansika akan berlangsung, Kendra sangat tahu bahkan Pasha, asisten pribadinya maupun pamannya, Farhan mengabari mereka akan mendampingi Satya sebagai pihak keluarga. “Aku masih hidup, tapi aku benar-benar sudah dianggap mati oleh putraku sampai dianggap tidak pantas mendampinginya menuju hari pentingnya.” Gumam Kendra. Menunggu setidaknya Pasha atau Farhan akan memberinya kabar. Lampu temaram di kamar besar itu seolah menekan dadanya lebih sesak dari biasanya. Terutama saat akhirnya ditangannya menunjukkan tablet dengan deretan foto berkualitas tinggi yang dikirim secara berkala oleh Pasha. Foto-foto itu menangkap setiap detail kemegahan di Venue daerah Sentul. Ada satu foto yang membuat jemari Kendra gemetar, Satya dalam balutan beskap putih, berdiri gagah

