Sunyi kembali turun setelah ciuman lebih lama dari sebelum-sebelumnya itu berakhir. Tangan Satya masih mencengkeram pinggang sang Nona, menahannya agar tidak lebih lancang untuk menginginkan lebih. Namun, bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang penuh sisa napas yang belum sepenuhnya tenang, detak jantung yang masih terlalu cepat untuk diabaikan. Hansika masih berada di pangkuan Satya. Dahinya bersandar di bahu pria itu, wajahnya terasa memanas, sementara Satya masih memeluknya tanpa bergerak, seolah takut satu sentimeter jarak bisa merusak sesuatu yang baru saja mereka jaga bersama. Waktu seperti berpihak di sekeliling mereka. Satya akhirnya menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, lalu membuka kembali, menatap lurus ke arah jendela apartemennya. Langit siang terlihat di sela

