Siang itu kebetulan Lea masih berada di ruangannya—ruang Presdir rumah sakit RMC. Dia baru saja selesai menerima tamu penting, baru saja mendudukkan diri kembali dan siap memeriksa berkas saat Halim, sang wakil presdir rumah sakit mengetuk pintu, minta izin masuk. Ia melenggang masuk, menatap iparnya yang mengabaikan sebuah surat penting. “Panggilan dari istana lagi?” tanya Halim yang dikabari Lea tadi. Mereka terbilang cukup sering diundang. Tidak gabung politik, tapi mereka turut pemerhati dan sering dilibatkan terutama bila ada keadaan tertentu khusus mencakup kesehatan masyarakat. Lea memberi anggukan, “yang tidak bisa diabaikan seperti biasa.” “Setelah gagal mendapatkan Ayah dulu, kini berusaha menjadikanmu atau aku bagian dari kabinet pemerintahan.” Halim dan Lea sama-sama ge

