Teror [2]

2412 Words

Pasha benar-benar tidak ikut sarapan, sambil masih terus bergidik membayangkan gumpalan bulu basah dan bau anyir yang menyeruak dari kotak tadi. “Sialan, kenapa juga aku tidak menghirup bau yang aneh itu?! Sedangkan kamu langsung curiga!” decaknya, merasa kurang teliti. Ya, walau memang dibanding Satya jelas, sahabatnya terlatih dan kadang instingnya sangat tajam. Ia terus saja membayangkan saat ia bawa dengan tangannya sendiri dari lobi ke unit apartemen sahabatnya. Satya tidak menggubris. Ia menghabiskan makanan kiriman Hansika dengan tenang, pikirannya terus membedah setiap keadaan termasuk terornya. Ia tahu, ketenangan adalah senjata utamanya saat ini. Jika ia panik, Nando menang. Jika ia emosional, ia akan membuat kesalahan seperti di tangga darurat hotel tempo hari. “Apa langka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD