Makan malam dilanjutkan dengan suasana bahagia, senyum seolah tidak mau hilang dari wajah Hansika. Sesekali juga mengusap cincin yang menghiasi jari manisnya. Ia sempat termenung, mengingat dulu memakai cincin tunangan dengan Nando yang karat berliannya lebih besar, rasanya terasa beban dan berat. Tapi, kali ini rasanya sangatlah pas dan tidak mau lepas memandanginya. “Kamu pilih cincinnya sendiri?” “Pilihnya sendiri, tapi rekomendasi tokonya dari Pasha dan dia temaniku juga.” Ia tatap jemari kekasihnya dalam genggaman, “ukurannya mungkin—“ Hansika menggeleng cepat, “aku suka, bukan karena ukuran atau harganya. Tapi, karena kamu yang memberikannya sebagai bentuk cinta dan keseriusan kamu.” Satya mengangguk, lega mendengar sang tunangan—bisa ia menyebutnya begitu kan? Hansika yang m

