“Pergi sendiri terlalu berisiko untukmu,” bisik Satya yang mendadak gelisah membayangkan Hansika pergi sendirian padahal selama ini dikawal. Hansika pun tadi bisa menyetir dengan lancar, bahkan menjalankan mobilnya cepat saat jalanan lenggang. Traumanya akan kecelakaan seperti dalam bayangan sirna, tidak terbesit selain sambil menangis berharap segera sampai ke pelukan kekasihnya. Hansika makin mengeratkan pelukan, “tetap diam setelah mendengar keputusan Papi yang egois pun, rasanya saya seperti dicekik. Sulit bernapas. Saya tidak sanggup menghadapi Papi yang bahkan sejak pengakuan kita, dia mendiamkan saya!” Hansika kembali terus terisak, terbayang situasi hari-hari hubungan memburuknya dengan Papi Hamish. Dia tidak pernah ada disituasi seperti ini. Dengan Papi sangat dekat. Situasi d

