121

1108 Words

Sepanjang perjalanan, d**a Ebas terasa sesak oleh kecemasan yang tak bisa ia kendalikan. Matanya terus menatap wajah Nala yang menegang menahan sakit, keningnya berkerut, bibirnya sedikit terbuka mengatur napas yang semakin berat. Tangannya menggenggam jemari istrinya erat, seolah ingin membagi sedikit kekuatannya. Tapi tetap saja, ia merasa tak berdaya melihat Nala harus menanggung rasa sakit seperti ini. "Ya Allah… aku mohon.. Selamatkan anak dan istri hamba…" gumamnya pelan, hampir seperti bisikan putus asa. Doa itu terus mengalir dari bibirnya. Hatinya bergetar dengan ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Khawatir. Takut kehilangan. Perasaan yang dulu tak pernah benar-benar ia rasakan saat istri pertamanya melahirkan, kini menyesakkan dadanya tanpa ampun. "Nala, tahan sebentar la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD