Dengan langkah percaya diri, Nala melangkah memasuki gedung IDY Corp. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Meskipun statusnya sebagai istri pemilik perusahaan ini sudah diketahui banyak orang, Nala tetap bersikap profesional sebagai sekretaris pribadi sang CEO. Namun, tentu saja, tidak semua orang menyukai keberadaannya di sini. “Pagi, Bu Nala,” sapa seorang wanita dengan suara ceria. Nala menoleh dan mendapati Dini, salah satu teman dekatnya sejak pertama kali bekerja di sini. “Pagi, Din. Stop deh pakai formal-formalan segala,” ujar Nala sambil menghela napas ringan. Dini hanya terkekeh. “Ck, itu mah kamu. Kalau ada Bos, mana berani aku panggil namamu gitu aja.” Nala menggeleng kecil. “Biasa aja, Din.” Mereka berjalan berdampingan menuju lift. “Tumben berangkat sendiri? Biasanya baren

