Ebas masih berdiri di tempatnya. Napasnya berat. Kepalanya penuh. Almira masih terisak dalam pelukannya, memegang erat jasnya seperti seseorang yang sedang tenggelam dan butuh pegangan. Tapi pikirannya tak lagi ada di sini. Hatinya berdegup kencang, bukan karena wanita yang menangis di dadanya, tapi karena tatapan itu—tatapan yang sempat ia lihat sesaat sebelum Nala pergi. Tatapan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun. Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Ponselnya bergetar di dalam sakunya. Sekilas, ia mengabaikannya. Tapi getaran itu terus berulang, seakan memaksa dirinya untuk menjawab. Dengan satu tarikan napas, ia merogoh ponsel dari sakunya. Layar menampilkan nama Galih. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada apa? Ia mengangkat panggilan itu dengan cepat, suaran

