Malam semakin larut, tetapi suasana rooftop hotel justru semakin meriah. Cahaya lampu-lampu gantung berpadu dengan sinar lilin di setiap meja, menciptakan suasana hangat dan intim. Musik mengalun lembut, tamu-tamu menikmati hidangan sembari bercengkerama, dan gelak tawa sesekali terdengar dari berbagai sudut ruangan. Namun, tiba-tiba musik berubah. Dentingan piano lembut mengalun, mengiringi suara merdu yang mulai memenuhi udara. Semua mata tertuju ke arah panggung kecil di tengah venue. Di sana, Nala berdiri dengan anggun, memegang mikrofon dengan kedua tangan. Matanya menatap lurus ke arah seseorang—suaminya, Sebasta Bayanaka Indrayan. "Masih ada perasaan... Yang tak menentu di hati..." Ebas, yang tengah berbincang dengan para tamu, langsung terdiam. Langkahnya terhenti. Pandangann

