Suasana makan malam yang semula hangat dan penuh canda tiba-tiba berubah ketika Nala meletakkan sendoknya perlahan. Perutnya terasa mual, gelombang ketidaknyamanan naik hingga ke tenggorokannya. Ia berusaha menahan, tetapi sensasi itu semakin kuat. Tanpa berkata apa-apa, Nala buru-buru bangkit dari kursinya dan bergegas ke kamar mandi. Ebas yang duduk di sebelahnya langsung menyadari perubahan raut wajah istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia menyusul Nala. Begitu tiba di kamar mandi, Ebas menemukan istrinya berlutut di depan closet, tangannya mencengkeram tepi marmer, sementara tubuhnya sedikit gemetar. Suara muntah terdengar, tetapi tidak ada yang keluar selain cairan bening. Napas Nala tersengal, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. “Sayang, kamu kenapa?” suara Ebas terdengar

