06 - Keadaan yang memulai? (21+)

1448 Words
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Rafly sampai di rumah. Sore tadi ia harus lembur karena PC-nya sempat mengalami trouble dan memakan waktu perbaikan cukup lama sehingga menghambat pekerjaannya. “Lembur, Mas?" tanya Nessa yang terlihat sibuk memasak mie di dapur. Rafly mengurungkan niatnya untuk rebahan di sofa dan berjalan ke arah dapur. “Iya. Ada trouble tadi jadi kerjaanku kehambat,” katanya sambil membuka tudung saji yang terletak di atas meja makan. Namun, ia tidak menemukan apapun di sana. “Kamu enggak beli makanan hari ini?” Refleks Rafly bertanya. “Oh, enggak. Makanya ini aku masak mie. Aku sibuk banget di toko. Aku juga baru pulang jam 7 tadi, enggak sempat beli lauk buat makan malam, Mas,” jawab Nessa enteng sambil membawa nampan kecil berisi mie yang baru saja di buatnya menuju ruang TV. Saat melewati Rafly, ia kembali bersuara. “Kalau kamu lapar, masak mie aja, Mas. Mie-nya ada di tempat biasa.” “Oh iya Mas, cucian baju sama piring kotor udah numpuk banget. Jangan lupa dicuciin ya, Mas.” Rafly menghela napas kasar. “Ness aku capek baru pulang. Pengen istirahat sekali aja. Bisa?” Nessa yang sedang enjoy menyantap mie sambil menonton acara televisi mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badannya ke arah Rafly. “Terus siapa yang nyuciin, Mas? Aku? Kan kamu tahu aku gak pernah ngerjain pekerjaan rumah selama ini. Aku gak bisa, Mas.” Nada suaranya terdengar kesal. “Gak pernah bukan berarti gak bisa dicoba kan, Ness?” setelah selama ini Rafly selalu mengalah, kali ini rasanya ia mulai jengah. “Mas, mas tahu kan kodratnya istri tuh cuman hamil dan melahirkan? Sisanya ya dikerjakan suami!” “Ness aku bukan gak pengen ngerjain pekerjaan rumah, tapi aku juga pengen lah Ness ngerasain jadi suami pada umumnya. Pulang kerja disambut istri, dibikinin kopi, dimasakin...” “Apa sih, Mas? Kamu tuh kenapa sih jadi kekanakan gini?” “Kekanakan?” Rafly benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja didengarnya. “Siapa yang kekanakan? Aku atau kamu?” “Kamu lah, Mas. Kamu tiba-tiba ungkit ini itu padahal sebelumnya gak pernah. Kamu kenapa sih, Mas? Hah?” Nessa menatap Rafly kesal. “Kamu sendiri yang bilang gak nuntut aku—” “Aku cuman pengen kamu perlakukan aku layaknya suami, Nes. Just it!” potong Rafly cepat. “Kamu gak bisa masak, gak mau belajar masak, fine. Aku gak masalah. Kita sepakat kamu beli masakan dari luar. Kamu gak pernah ngerjain pekerjaan rumah, gak mau belajar juga, fine. Aku yang mengerjakan semuanya. Tapi, Nes ...” Rafly menatap lekat wanita yang masih belum bergerak dari posisinya semula. “Aku cuman pengen dilayani sebagai suami. Salah aku minta itu dari kamu?” Emosi Rafly sudah tak bisa dibendung lagi. Kali ini ia marah. “Buat apa aku punya istri kalau apa-apa aku harus lakuin sendiri?” “Jadi kamu nyesel Mas nikah sama aku? Jangan lupa kamu yang bikin aku hamil!” tandasnya. Ia bangkit dari sofa dan berjalan cepat menaiki anak tangga. Meninggalkan Rafly yang masih diselimuti emosi. Rafly memandang ke arah anak tangga yang sudah tak lagi menampakkan sosok Nessa. Ini adalah pertengkaran pertama semenjak mereka menikah. Selama ini Rafly selalu mengalah namun kali ini entah mengapa emosinya meluap begitu saja. Ia bangkit dari posisinya, berjalan ke arah kabinet TV dan mengambil kunci mobil yang sempat dirinya geletakkan di sana kemudian melangkah keluar. *** Baru saja Raline selesai mengeringkan rambutnya ketika suara bel terdengar. Sesaat ia mengerutkan kening, berpikir siapa yang berkunjung larut malam begini? Namun pintu bel kembali berbunyi membuat Raline segera mengambil cardigan gaun tidurnya, lalu dipakainya. Dengan langkah sedikit cepat, Raline berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah dan segera membuka pintu. Ia terkejut saat mendapati Rafly yang berdiri di sana dengan wajah kacau. “Raf—” “Boleh aku masuk?” potongnya cepat. Raline terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Membiarkan lelaki itu masuk ke dalam apartemennya. “Something happens, Raf?” tanya Raline hati-hati. Ikut duduk di sofa. “Hmmm. Tapi aku nggak mau membahasnya,” ujar Rafly pelan. Bersamaan dengan itu suara perutnya berbunyi. “Kamu belum makan? Aku buatin nasi goreng, mau?” tawar Raline sigap. Tanpa harus berpikir dua kali, Rafly langsung mengangguk. “Boleh. Udah lama aku gak makan masakan kamu.” Raline refleks tersenyum. “Ya udah kamu tunggu di sini, aku buatin dulu. Okay?” Ia segera bangkit dan berjalan menuju dapur untuk membuat nasi goreng. Sekitar 20 menit, nasi goreng yang dijanjikan Raline pun selesai dibuat. Ia memanggil Rafly untuk bergabung bersamanya di meja makan sambil mempersiapkan air untuk lelaki itu. “Minumnya, Raf,” ia meletakkan segelas air di atas meja tepat di sisi piring Rafly. “Thanks.” Rafly mulai menyendok nasi goreng buatan Raline ke dalam mulutnya. Cita rasa itu ... ah sudah lama Rafly tidak merasakannya. “Gimana? Enak?” Raline bertanya dengan penuh penasaran. “Enak. Nasi goreng buatan kamu enggak pernah gagal,” pujinya membuat Raline kembali mengulum senyum. “Kalau gitu habisin. Jangan tersisa sedikitpun!” Lelaki itu menaikkan sendok yang berisi nasi goreng ke udara, lalu berucap. “Dengan senang hati.” Keduanya pun terkekeh. Tentu saja dengan senang hati Rafly menghabiskan nasi goreng tersebut tanpa sisa. Setelah sekian lama, Rafly kembali merasakan masakan yang benar-benar rumah. Ini bukan tentang Raline dan seberapa lama lelaki itu tidak merasakan masakan buatannya, bukan. Ini lebih dari itu. Setelah selesai, Rafly berdiri dari posisinya, berjalan ke arah westafel membawa piring dan gelas yang baru saja dipakai olehnya. Hendak ia cuci seperti kebiasaannya jika di rumah. Namun, sebuah tangan lebih dulu menahannya. “Ngapain, Raf? Jangan. Gak perlu cuci. Nanti biar aku aja yang nyuci atau gampang aku nyuruh bibi besok,” cegahnya, mengambil alih piring dan gelas dari tangan lelaki itu kemudian meletakkannya ke dalam westafle. Saat membalikan tubuh, Raline spontan bertabrakan dengan d**a Rafly yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakangnya membuatnya hampir kehilangan keseimbangan jika saja Kedua tangan Rafly tidak sigap meraih pinggang Raline. Hal itu membuat pandangan mata keduanya bertemu. Sepersekian detik mereka hanya saling tatap tanpa berkata sepatah kata pun. Memandang Raline sekelat itu entah mengapa membuat jantung Rafly berdebar lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir hebat bahkan otaknya mulai tak bisa berfungsi dengan semestinya. Perlahan, Rafly mendekatkan wajahnya. Mendaratkan satu ciuman di bibir wanita itu. Sepersekian detik ia menunggu namun tak ada respon penolakan dari Raline. Hal itu membuat Rafly semakin kehilangan akal sehatnya. Ia kembali melumat bibir wanita itu dengan lembut namun penuh gairah. Kembali merasakan rasa manis dan kenyal bibir Raline yang sangat memabukan. Rafly tidak ingin munafik jika sejak tadi, tubuhnya terasa panas melihat Raline yang begitu menggoda. Otaknya terus berkelana pada keinginan dan imajinasi liar bersama Raline. Mengantarkannya pada kesalahan kedua yang sudah dipastikan akan lebih berbahaya. Di saat yang sama, Raline tak ingin tinggal diam. Ia balas melumat bibir Rafly agresif, membuktikan pada lelaki itu bahwa Raline yang saat ini bukanlah wanita yang dulu tak fasih apa-apa. Masih melumat bibir Raline, jemari Rafly bergerak membuka jubah tidur yang wanita itu kenakan dan membuangnya ke sembarang tempat. Menyisakan lingerie berwarna merah menggoda yang membungkus tubuh indah Raline. Satu tangannya kembali memeluk pinggang ramping Raline sedang tangan lainnya menyentuh permukaan d**a Raline lalu meremasnya. Ini merupakan kali pertama Rafly menyentuhnya. Rasanya begitu lembut membuat darahnya kembali berdesir. Bentuknya yang bulat benar-benar sangat Rafly sukai. Meski milik istrinya juga bulat, namun milik Raline lebih besar dan penuh. Sesekali Rafly melakukannya dengan lebih keras membuat Raline melengkuh panjang. Rafly segera melepaskan pangutannya lalu membalikan tubuh Raline hingga membelakanginya. Ia melepaskan tali tipis lingerie Raline lalu menariknya hingga ke pinggang. Membuat tangan Rafly leluasa meremas d**a Raline tanpa terhalang oleh satu helai benang pun sementara tangan yang lain mulai bergerak di bawah sana. “You’re wet, Line,” ucap Rafly parau ketika mendapati dibawah sana Raline telah siap untuknya. Ia kemudian mengangkat panggul Raline, membuat kedua tangan wanita itu refleks bertumpu pada meja makan. Tak lupa ia juga menaikkan lingerie itu hingga bertumpuk di pinggang Raline lalu segera membuka resleting celananya dan mulai memposisikan diri untuk memasuki Raline. Namun sebelum itu terjadi, Rafly kembali menyentuh bagian bawah Raline. Ia bersuara. “I want you, Line. May I ...” Dengan nafas yang tersengal-senggal dan hasrat yang terlanjur naik, Raline berkata dengan susah payah. “Please ... Do it gentle and slowly.” Mendengar itu, Rafly tidak ingin membuang waktu. “As you wish, baby!” Perlahan, ia bergerak mendesak tubuh Raline. Mengulanginya beberapa kali hingga penyatuan keduanya benar-benar sempurna. Raline terengah dengan desiran hebat dalam tubuhnya yang tak ia mengerti dan Rafly terus menjamah dengan gairah yang tak terkendali. Keduanya menikmati moment itu. Sepanjang malam, hingga pagi menyapa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD