05 - Raline dan Rafly Mulai Kembali Dekat?

1697 Words
Setelah memetik strawberry di kebunnya langsung, mengunjungi tempat wisata dan menghabiskan uang—tentunya— untuk berbelanja dan membeli berbagai macam cinderamata serta oleh-oleh, menjelang sore semua team divisi moderate content kembali ke villa untuk beristirahat mengingat malam nanti mereka semua akan makan malam di luar yang kemudian dilanjut usulan dari salah satu team untuk karaoke-an sebagai penutupan gathering sebelum kembali menjadi b***k corporate. Sekitar pukul 21.00 WIB, semua orang sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat karaoke yang sebelumnya sudah di booking. Namun Raline tiba-tiba merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak ikut. Ia memilih kembali ke villa saja untuk beristirahat. “Bener gak papa, Ra?” Pak Dimas kembali bertanya ketika Raline mengatakan akan kembali ke villa sendirian. “Gak papa, Pak. Nanti saya naik taksi online aja. Aman kok.” “Gue temenin deh, Ra.” “Gak usah, Mbak. Lo ikut aja. Lagian gue cuman gak enak badan doang. Dibawa tidur juga mendingan,” tolak Raline. “Ya udah gini aja,” Pak Dimas mengambil jalan tengah. “Raline biar diantar Rafly ke Villa. Sisanya ikut di mobil yang lain. Ok?” yang langsung diangguki oleh Karesa, Agma dan Gama. “Raf, lo bisa kan anterin Raline? Kasian Raline klo harus pulang sendirian?” tanya Pak Dimas kemudian. “Bisa,” jawabnya singkat, padat, sekaligus pasrah. Ia tidak mungkin menolak karena pasti akan menimbulkan kecurigaan diantara mereka dan Rafly tidak ingin semua orang tahu siapa Raline dan apa hubungan diantara keduanya sebelumnya. Rafly masuk terlebih dahulu ke dalam mobil di susul oleh Raline. Mereka pun berpisah arah, melanjukan mobil untuk kembali ke Villa. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dalam hening. Raline memilih untuk menyenderkan kepalanya ke sisi mobil sambil memejamkan mata. Saat ini dirinya tidak berniat untuk terlibat pembicaraan dengan Rafly seperti biasa. Rafly yang sedari tadi ikut diam sembari sibuk menyetir, ternyata diam-diam mencuri pandang ke arah Raline. Tidak ingin munafik, lewat hati kecilnya Rafly merasa takjub dengan Raline yang ia lihat akhir-akhir ini. Wanita itu benar-benar berubah dan sialnya Rafly merasa tidak terima ketika tidak sengaja mendapati lelaki dari tim lain memandang Raline seperti hendak memangsa. “Sial!” batinnya dalam hati. Bersamaan dengan itu, ponsel Rafly berdering. Ia segera mengambil ponsel yang tadi sempat ia geletakkan di dasbor mobil untuk melihat siapa yang menelpon. Ternyata Nessa—istrinya. Rafly segera mengangkat telepon tersebut setelah sebelumnya kembali melirik ke arah Raline. Entah untuk apa. “Ya, Ness, kenapa?” “Mas kamu lagi nyetir, ya?” tanya Nessa dari sebrang. “Iya. Aku lagi di jalan. Kenapa?” “Oh enggak. Aku cuman ... eumm ... yaa ... sedikit khawatir.” “Ness, I'm fine. Aku enggak melakukan hal-hal yang ada di kepala kamu sekarang. No, I'm not.” Raut wajahnya terlihat jengah. Itu adalah kesepuluh kalinya dalam hari ini Nessa menanyakan hal yang sama. “Aku tahu. Aku cuman jaga-jaga aja. Wajar kan, Mas?” “Ketakutan kamu yang gak wajar, Ness. Kamu gak percaya aku.” “Aku percaya sama kamu—” “Sorry aku tutup teleponnya. Aku lagi nyetir,” potongnya cepat. Dan tanpa menunggu jawaban Nessa, Rafly langsung mematikan telepon tersebut dan kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. “Curigaan, eh?” cibir Raline yang ternyata mendengar pembicaraan Rafly di telepon. “Wajar. Bukankah kamu juga begitu dulu?” Rafly balik mencibir. Raline mengangguk-angguk setuju. “Tapi aku enggak pernah merebut kamu dari siapapun. Aku possesif karena takut kehilangan.” “Nessa does the same thing.” Rafly masih membela istrinya. Membuat Raline terkekeh. “Lebih tepatnya dia takut apa yang pernah dia rebut, akan kembali direbut.” ia menatap lekat lelaki di sampingnya yang tak mampu berkata apa-apa itu. “Jangan bikin masalah, Line. Aku gak mau Nessa sampai bertemu dengan kamu dan bikin dia makin possessive,” tutur lelaki itu sambil terus menyetir. Sayangnya, kamu terlambat, Raf. Raline berujar dalam hati. Sekitar 45 menit perjalanan, keduanya sampai di villa. Setelah mematikan mesin mobil, Raline keluar lebih dulu disusul oleh Rafly yang berjalan dibelakangnya. Raline tidak langsung naik ke lantai dua. Ia memilih untuk duduk di sofa karena perutnya yang semakin bergejolak. “Line, are you okay?” tanya Rafly yang terlihat sedikit khawatir. Raline menggeleng. “Maag aku kayaknya kambuh, Raf. Perih banget perut. Padahal baru di isi.” “Kita ke dokter, gimana?” “No. Nggak usah, Raf. Aku bawa obat maag. Bisa minta tolong ambilin di kamar aku? Aku taro di laci deket tempat tidur.” “Ok, kamu tunggu disini. I'll back soon!” Rafly segera berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Raline berada. Rafly kembali dengan obat maag ditangannya. Ia meletakkan obat itu di meja kemudian berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air. “Ayo, diminum dulu obatnya, Line,” ujar Rafly sambil mengeluarkan satu tablet obat dari tempatnya dan menyodorkannya pada Raline. Raline menerima obat tersebut dan segera meminumnya. “Thank you, Raf,” katanya kemudian meletakkan kembali gelas diatas meja. Setelahnya, Raline menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil memejamkan mata. Berharap rasa perih di perutnya segera mereda. Rafly memperhatikan wajah pucat wanita disampingnya. Tangannya tanpa sadar menggeser kepala Raline pelan sampai bersandar di bahunya. “Aku pengen ke kamar, Raf,” tutur Raline kemudian. Ia hendak berdiri namun Rafly lebih dulu menahannya. Dan tanpa di duga, Rafly memangku tubuh Raline dan membawanya menaiki tangga menuju kamar. Rafly membaringkan Raline di tempat tidur secara perlahan. Saat itu wajah keduanya tak sengaja bertemu apalagi jarak yang begitu dekat cukup membuat jantung Rafly berdebar hebat. Bibir merah menggoda Raline mulai membuat otak Rafly tidak bisa diajak kompromi. Apalagi saat wanita itu memanggil namanya, Rafly refleks mencium bibir Raline. Bukan hanya mencium tetapi ia bahkan melumatnya. Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki tubuh Rafly, membuatnya benar-benar kehilangan kewarasan. Raline mengalungkan kedua tangannya di leher Rafly kemudian membalas lumatan lelaki itu. Ia tidak memulainya, lelaki itu sendiri yang menyodorkan dirinya, bukan? Keduanya melepaskan pangutannya ketika sama-sama hampir kehabisan napas. Masih dengan napas yang terengah, mata keduanya bertemu—saling menatap satu sama lain tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bukannya sadar, Rafly malah menarik kepala Raline agar mendekat ke arahnya dan kembali melumat bibir perempuan itu. Kali ini Rafly melakukannya dengan penuh kesadaran. *** Semua kembali ke setelan pabrik alias bekerja seperti biasa setelah liburan pendek di Bandung. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi antara Raline dan Rafly pun curiga terhadap keduanya. Semuanya berjalan seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. See, betapa hebatnya dua manusia itu dalam hal menutupi. “Ra, balik, yuk? Udah waktunya balik, nih,” ujar Karesa yang terlihat mulai mebereskan mejanya. Tak lupa ia juga mematikan PC-nya. “Duluan deh, Mbak. Tanggung nih gue, masih belum complete,” tunjuk Raline pada layar mobitor yang menperlihatkan masih ada sekitar 100 content yang harus di moderate. “Banyak juga ya, Ra.” Karesa menanggapi. “Inituh yang lambangnya kecil-kecil banget, Mbak. Hampir gak keliatan. Ih gila pada pinter-pinter banget deh heran gue,” ujar Raline setengah mendumel. Karesa terkekeh kemudian menepuk bahu Raline. “Semangat, Ra. Gue balik dulu, ya. Anak gue udah ngerengek nih minta maknya buruan balik.” “Hati-hati. Salam buat Gefara ya, Mbak.” Dan setelahnya, Raline ditinggal sendirian. Gama dan Agma bahkan sudah lebih dulu pulang setelah pekerjaannya selesai. Gama bilang ada urusan mendadak terkait rencana pernikahannya sedangkan Agma punya prinsip ‘Bekerjalah sesuai dengan salary’ meskipun kadang kalo di suruh Boss, Agma masih mau saja selama masih di jam kantor. Yaa, namanya juga b***k coorporate. Serealistis apapun menerapkan fungsi hidup, tetep aja kacungnya bos. Raline membaringkan punggungnya pada kursi. Ia menghembuskan napasnya kasar sambil masih menatap ke layar komputer di hadapannya. Hari ini pekerjaannya lumayan menguras otak dan semua itu gara-gara banyaknya konten yang mempromosikan judol yang lambangnya sangat-sangat kecil hampir tidak kelihatan kalau saja tidak benar-benar jeli melihatnya. Namun, yang Raline tidak habis pikir adalah banyak dari mereka yang menpromosikan adalah para influencer dan menurut info yang beredar bayarannya lumayan fantastis. Kisaran dua digit jika di lapak sebelah. Sekitar pukul 6 sore Raline akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghela napas lega kemudian segera mematikan layar komputernya dan bergegas pulang. Di lobi ia tak sengaja melihat Rafly yang baru saja selesai mengobrol dengan salah satu staff marketing. Ia kemudian berjalan menghampiri lelaki itu. “Hai. Belum pulang?” tanya Raline basa basi seperti biasa. “Ini mau pulang. Habis ada urusan barusan.” Lelaki itu melanjutkan. “Kamu baru mau pulang?” Raline mengangguk. “Tapi belum dapet drivernya, nih, tumben banget lama,” katanya sambil mengotak-ngatik ponselnya. Rafly menaikkan satu alisnya. “Mobil kamu kemana?” “Aku tinggal di bengkel. Tadi pagi sempet mogok entah kenapa,” jawab Raline sambil menutup laman aplikasi ojek online. “Need me to take you home?” tawar lelaki itu. “Do you mind?” “No. Sama sekali.” “Okay.” Keduanya pun berjalan beriringan ke arah parkiran di mana mobil Rafly berada. Jalanan jakarta hari ini cukup lenggang sehingga hanya butuh waktu 45 menit keduanya sudah sampai di basement apartement Raline. “Thanks a lot, Raf. Wanna come?” “Do you mind?” Rafly mengulang kalimat Raline sebelumnya. “No. Sama sekali.” “Okay.” keduanya terkekeh, kemudian turun dari mobil. Raline berjalan lebih dulu diikuti oleh Rafly di belakangnya menuju lift. Sampai di unit apartement, Raline langsung berjalan ke arah dapur setelah sebelumnya mempersilakan Rafly untuk duduk di sofa. “Wanna tea or coffe?” Rafly beranjak dari posisinya, berjalan ke arah meja bar kecil yang menyatu dengan dapur dan duduk di stool. “Coffe, boleh. Kalau nggak merepotkan,” jawab Rafly yang hanya ditanggapi senyum oleh Raline. Tak lama, Raline ikut bergabung dengan Rafly sambil menyodorkan secangkir kopi pada lelaki itu. “Thank you.” “You’re welcome.” “Kamu tinggal sendirian?” Raline mengangguk. “Tinggal sendirian ternyata bukan ide yang buruk,” tuturnya sambil meneguk tehnya. Rafly setuju. “Kamu banyak berubah, aku akui itu.” “I'm happy with a new version of my self.” Lelaki itu tidak menanggapi. Hanya memandang Raline sejenak kemudian kembali meneguk kopi di tangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD