Panik menyergap Nadine begitu teriakan Kamila memecah udara. Di depan matanya, sebuah mobil melaju kencang, menabrak batas realita dan rasa takutnya sekaligus. Ia ingin berlari—berlari secepat mungkin, tapi kakinya seperti tertancap dalam aspal, membeku oleh ketakutan yang membara di dadanya. Tiba-tiba, suara benturan keras menggema. Tubuh seseorang terhempas ke aspal, bukan Nadine, melainkan Kamila yang tanpa ragu mengorbankan nyawa, menolak tubuh sang anak agar tak terlindas. "MAMA!" teriak Nadine dengan suara tercekat, langkahnya terhuyung, tubuhnya tersungkur oleh dorongan panik yang membabi buta. Meski terjatuh, ia selamat, meski perutnya merintih sakit—sebuah peringatan bahwa nyawa yang dikandungnya kini ikut bertarung. Bagas, yang baru saja hendak pergi, terpaku dalam keheningan

