Arvin kembali ke kompor, mengaduk sayur dengan gerakan tenang dan terlatih. Wajan mendesis pelan, aroma bawang dan bumbu menyatu dengan udara pegunungan yang masuk lewat jendela terbuka. Cahaya siang jatuh di punggungnya, membuat sosok itu tampak begitu nyata—dan begitu dekat. Di belakangnya, Zahra menatap tanpa berkedip. Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Bukan karena Arvin sedang memasak, tapi karena kenyataan yang sedang ia jalani. Jalan takdir benar-benar aneh, pikirnya. Tidak pernah lurus, tidak pernah bisa ditebak. Beberapa bulan lalu, laki-laki itu masih suami wanita lain. Hidup Zahra kala itu berjalan di relnya sendiri—tenang, mandiri, dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Ia tidak pernah membayangkan akan berdiri di titik ini. Menjadi istri Arvin. Mengandung anakn

