Azuraa memilih kembali ke kamar karena tak kuasa menahan tangis, dadanya terasa sesak memikirkan Emran masih memperhatikan Veena dan menjamin hidupnya. “Apa-apaan itu, sama sekali tidak masuk akal!” tukas Azuraa sambil menahan tangis, meski akhirnya tak urung emosinya meledak dan dia hanya bisa menangis. “Bagaimana aku masih mempercayaimu jika kau seperti ini, Mas!” tangis Azuraa terisak-isak memeluk guling. Azura tahu jika orang-orang pasti akan mencarinya, tapi dia tak bisa kembali ke bawah dalam keadaan wajah yang sembab. Maka dia pun mengurung diri saja sampai tanpa sadar akhirnya tertidur. Guncangan halus di bahu membangunkannya, Azuraa membuka mata dan mengerjap silau melihat sinar lampu di atasnya. Tampak kemudian Emran muncul di hadapannya dengan wajah cemas. “Sayang? Kau tid

