Ryujin terbangun oleh tangisan kecil yang familiar, suara yang bahkan di sela tidur paling lelap pun selalu berhasil menariknya kembali ke dunia nyata. Matanya terbuka perlahan, telinganya vmemastikan sekali lagi. Tangisan itu datang dari kamar sebelah. “Jasmine…” gumamnya pelan. Ia bangkit tanpa membangunkan Julian, meraih cardigan tipis yang tergantung di sandaran kursi, lalu melangkah cepat ke kamar putrinya. Lampu tidur kecil masih menyala. Jasmine terjaga di dalam boks, wajahnya merah, kedua tangannya mengepal, air mata mengalir di pipi gembulnya. Ryujin langsung menggendongnya. “Shh… sini, sini,” bisiknya lembut sambil menepuk-nepuk punggung Jasmine. “Kenapa bangun, hm?” Tangisan itu perlahan mereda, berubah menjadi isakan kecil yang terputus-putus. Jasmine menyandarkan kepala d

