Julian 164

601 Words

Sore itu rumah terasa tenang. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang bahkan Julian sendiri tidak terlalu perhatikan. Ia duduk di sofa dengan posisi santai, satu kaki sedikit ditekuk, satu tangan memegang biskuit yang sejak tadi ia makan pelan-pelan. Bukan karena lapar, lebih karena kebiasaan saja. Di lantai, beberapa mainan Jasmine berserakan. Jasbmine sendiri berdiri beberapa langkah dari sofa, memegang sisi meja kecil sebagai penopang. Matanya tidak lepas dari tangan Julian. Tepatnya, dari biskuit di tangan itu. Ia menatap dengan serius, seolah sedang menilai jarak dan kemungkinan. Kepalanya sedikit miring, lalu ia melepaskan pegangan. Satu langkah kecil. Kakinya goyah, tapi ia tetap maju. Langkah kedua. Julian yang awalnya fokus ke televisi mulai melirik ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD