Julian tersenyum ketika melihat kelopak mata Ryujin bergerak pelan, lalu terbuka perlahan. Wajah istrinya masih pucat, namun matanya jernih, penuh kesadaran. Napasnya memang belum stabil sepenuhnya, tetapi ia hidup, ia ada, dan itu saja sudah cukup membuat d**a Julian terasa sesak oleh rasa syukur. “Kamu sudah bangun,” ucap Julian pelan, suaranya begitu lembut seolah takut sedikit saja lebih keras bisa membuat Ryujin kembali terlelap. Ryujin menggerakkan kepalanya sedikit, matanya menatap Julian dengan bingung bercampur lelah. Bibirnya bergerak, suaranya nyaris tak terdengar. “Anak kita… bagaimana?” Julian langsung mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Ryujin dengan hati-hati. “Sehat,” jawabnya tanpa ragu. “Anak kita sehat. Sebentar lagi akan dibawa ke sini. Masi

