Julian 60

1003 Words

Ruang tengah rumah utama keluarga Leonard pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya matahari menembus tirai besar berwarna krem, jatuh lembut ke sofa tempat Ryujin duduk dengan posisi bersandar. Di pelukannya, bayi perempuan kecil itu tertidur tenang, napasnya teratur, wajahnya begitu damai seolah dunia belum pernah menyentuhnya dengan luka apa pun. Farah duduk tidak jauh dari mereka, tangannya memegang secangkir teh hangat yang sudah hampir dingin karena perhatiannya tak lepas dari cucu pertamanya. Matanya berkaca-kaca sejak tadi, menatap bayi itu dengan senyum yang tak pernah pudar. Julian berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap mereka. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya terlihat santai, tetapi pikirannya bekerja. Ia sudah memikirkan nama itu sejak malam pertama i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD