Julian 69

2185 Words

Sejak beberapa minggu terakhir, Luna selalu mengamati dari jauh. Mata gelapnya selalu menatap rumah keluarga Leonard dengan penuh kebencian. Setiap kali ia melihat Julian dan Ryujin tertawa bersama, bermain dengan Jasmine, atau sekadar saling menatap dengan penuh cinta, dadanya terasa sesak. Rasa sakit yang mengakar itu, rasa cemburu yang membara, semakin membuatnya hilang kendali. Ia tak sanggup melihat kebahagiaan yang tidak lagi menjadi miliknya. “Kenapa semuanya begitu sempurna untuk mereka?” bisik Luna pada dirinya sendiri, tangannya mengepal keras. “Julian… seharusnya itu aku yang ada di sana. Bukan Ryujin. Bukan bayi itu.” Luna menundukkan wajahnya, menahan air mata yang hampir tumpah. Namun sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Wajahnya menjadi dingin, penuh tekad, dan matanya be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD