Julian 127

2911 Words

Pesawat mendarat dengan hentakan berat di landasan bersalju. Vladivostok menyambut malam dengan dingin yang menusuk tulang. Lampu-lampu bandara memantul di permukaan es tipis, angin laut Pasifik membawa bau asin yang pahit. Julian melangkah keluar dari terminal tanpa ragu, mantel panjangnya berkibar diterpa angin. Negara ini bukan tempat bersembunyi yang mudah. Tapi bagi orang tua yang menua dan ketakutan, tempat ini adalah neraka sunyi. “Tim sudah menyebar,” lapor Geo lewat ear-piece. “Jejak transaksi tunai muncul dua kali. USatu di apotek, satu di pasar ikan.” Julian berhenti sejenak. “Apotek?” “Obat jantung,” jawab Geo. “Atas nama perempuan. Usia di atas enam puluh.” Julian menarik napas perlahan. “Ibunya.” Ia melanjutkan langkah, masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD