Julian 128

2703 Words

Hari itu langit Seoul abu-abu. Tidak hujan, tapi juga tidak cerah. Udara terasa berat, seperti menahan sesuatu yang tidak jadi jatuh. Julian datang lebih awal. Ia tidak masuk ke area utama pemakaman, memilih berdiri agak jauh, di bawah bayangan pohon pinus yang berjajar rapi. Jas hitamnya jatuh sempurna di tubuhnya, terlalu rapi untuk suasana seperti ini. Kacamata hitam berlogo Chanel menutupi matanya, bukan untuk gaya—lebih untuk menjaga jarak. Beberapa orang menoleh. Ada yang berbisik pelan, ada yang hanya melirik cepat lalu berpura-pura tidak melihat. Julian tidak peduli. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya tegak, wajahnya datar. Ia tidak ddatang untuk menunjukkan apa pun. Ia datang untuk memastikan satu hal saja: semuanya benar-benar selesai. Di kejauhan, keluarga Siwon berdiri

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD