Julian 46

2458 Words

Pagi itu, cahaya mentari menembus jendela apartemen, menerangi ruang tamu yang hangat. Ryujin duduk di sofa, wajahnya berseri meskipun ada sedikit kekhawatiran di matanya. Ia menatap Julian yang sedang menyiapkan sarapan hangat untuknya, senyumnya tetap hangat meski pikirannya melayang ke Korea. “Julian… aku ingin ke Korea sebentar, menemui pamanku dan bibiku. Aku tahu orang tuaku sudah tiada, tapi aku rindu melihat keluarga yang masih ada,” ucap Ryujin lembut, mencoba menyampaikan keinginannya dengan hati-hati. Matanya berbinar penuh harapan. Julian menatap Ryujin dengan pandangan serius. Ia menahan napas sejenak, mencoba menyusun kata-kata terbaik untuk menjelaskan kekhawatirannya. “Ryujin… aku mengerti keinginanmu, tapi kau sedang hamil muda. Perjalanan jauh sekarang sangat berisiko.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD