Beberapa minggu setelah tragedi dan kebahagiaan kecil di taman, Luna akhirnya menerima tawaran Farah untuk menjadi kepala panti asuhan yang baru dibangun oleh ibu Julian. Panti asuhan itu berada di pinggir kota, dengan halaman luas, taman bermain kecil, dan beberapa bangunan bercat cerah yang rapi. Saat pertama kali memasuki panti, Luna berjalan perlahan, menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. Beberapa anak kecil berlari ke arahnya, tersenyum dan memanggil, “Kak Luna! Kak Luna!” Luna menunduk, tersenyum tipis, mengusap kepala mereka dengan gerakan kaku tapi tetap ramah. Farah menatap dari jauh, tersenyum puas. Ia tahu Luna masih menyimpan dendam, tetapi setidaknya Luna sekarang berada di lingkungan yang lebih positif. Farah berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Luna.

