Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, menimbulkan suasana suram di sepanjang jalan. Di UGD rumah sakit, Ryujin terbaring lemah di ranjang, tubuhnya masih memar akibat tabrakan yang dialaminya. Selimut putih menutupi sebagian tubuhnya, namun bekas luka dan lebam terlihat jelas di tangannya dan wajahnya. Julian berdiri di sampingnya, menatap Ryujin dengan mata penuh cemas dan ketakutan. Tubuh Julian gemetar saat melihat Ryujin terbaring di sana, napasnya tak beraturan. “Ryujin… tetaplah tenang… aku ada di sini… jangan khawatir…” katanya sambil menggenggam tangan Ryujin erat-erat, mencoba menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri hancur. Ryujin membuka matanya perlahan, menatap Julian dengan mata yang basah. Rasa sakit yang luar biasa memenuhi tubuhnya, namun melihat Julian membuat ha

