Julian menatap Ryujin yang mulai membuka matanya perlahan, tubuhnya yang sempat lemah kini menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Napasnya lebih stabil, pipinya kembali merekah dengan sedikit rona merah, dan senyumnya mulai menghiasi bibir tipisnya. Julian merasa lega. Hatinya berdetak lebih cepat, penuh campuran rasa syukur dan tanggung jawab. Ia menunduk untuk memeriksa Jasmine yang tertidur di box bayi dengan aman, lalu dengan lembut mengangkatnya ke pelukannya. “Sudah waktunya, Ryujin,” bisik Julian, menatap istrinya dengan penuh cinta. “Jasmine ingin berada di dekat mamanya.” Ryujin menatap Julian dengan mata yang masih sedikit sembab akibat tidur dan demam beberapa hari sebelumnya, namun senyum tipisnya perlahan merekah. Ia mengulurkan tangannya, jemarinya gemetar sedikit karena masih

