Julian berdiri di depan pintu apartemen Ryujin dengan senyum kecil yang jarang muncul di wajahnya. Tangan kirinya memegang sebuket mawar merah segar, sementara tangan kanannya membawa dua botol wine paling mahal yang bisa ia dapatkan pagi itu juga. Ia mengetuk pintu pelan, menunggu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Ryujin muncul dengan kaus oversized warna abu dan celana pendek nyaman. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya polos tanpa riasan. Namun itu justru membuat Julian terpaku. Ryujin membelalakkan mata. “Julian? Kamu… sudah datang?” Julian mengangkat buket bunga. “Untukmu.” Ryujin tertegun. “Astaga… apa ini? Kenapa tiba-tiba begini?” “Kemarin kita belum benar-benar punya waktu berdua. Jadi… aku mau memperbaikinya,” ujar Julian sambil menunjukkan dua botol wine. “Aku

