Julian duduk bersandar di kursi balkon apartemen Ryujin sambil menatap wajah wanita itu yang diterangi cahaya lampu kota. Ada sesuatu yang berubah dari cara dia menatap Ryujin malam itu—lebih dalam, lebih hangat, lebih ingin memiliki. Dia memutar gelas wine di tangannya sambil tersenyum kecil. “Aku punya ide,” ucap Julian tiba-tiba, nadanya tenang namun penuh maksud. Ryujin menoleh dengan kening sedikit mengkerut. “Ide apa? Jangan bilang ide aneh lagi seperti kamu mau ngajak aku pindah ke gunung atau hidup tanpa internet.” Julian tertawa. “Bukan. Ini lebih menarik.” Ryujin mendekat sedikit, menatap matanya dengan rasa penasaran. “Apa?” Julian meraih tangan Ryujin, menggenggamnya lembut. “Kita liburan.” Ryujin membelalakkan mata. “Hah? Liburan? Ke mana?” Julian mencondongkan tubuh se

