Luna berdiri tepat di depan Yosi. Bukan kebetulan. Bukan juga emosi sesaat. Luna memn.ang sengaja menunggu wanita itu di lorong apartemen, masih dengan pakaian sederhana, rambutnya diikat asal, tapi sorot matanya sama sekali tidak terlihat santai. Yosi baru saja keluar dari lift ketika langkahnya terhenti. “Oh,” ucap Yosi singkat, menaikkan alis. “Ini siapa lagi?” Luna menyilangkan tangan di d**a, sikapnya tenang tapi jelas menantang. “Teman Ryujin.” Yosi tertawa kecil. “Oh, tentu. Selalu ada barisan penjaga.” “Bukan penjaga,” balas Luna ringan. “Aku cuma tidak suka orang yang masuk rumah orang lain, menampar istri sah, lalu sok merasa paling berhak.” Ekspresi Yosi berubah sedikit. Tidak kaget, tapi kesal. “Jadi kamu sudah dengar ceritanya,” kata Yosi, nada suaranya sinis. “Aku de

