Julian 219

796 Words

Pagi itu rumah terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Aroma masakan hangat menyebar dari dapur hingga ke ruang makan, membawa suasana yang begitu akrab dan menenangkan. Bukan aroma masakan dari pelayan seperti biasanya— tapi masakan rumah. Masakan seorang Mama. Ryujin duduk di kursi ruang makan dengan posisi nyaman, satu tangan mengusap perutnya yang sudah besar, sementara wajahnya terlihat jauh lebih cerah pagi itu. Di depannya, semangkuk sup ayam hangat mengepul pelan, aromanya lembut dan menggugah selera. Ia tersenyum. “Mama yang masak ini?” Di samping meja, Farah berdiri dengan apron sederhana—sesuatu yang jarang sekali terlihat pada wanita elegan itu. Namun pagi ini, wajahnya terlihat santai, bahkan hangat. “Iya,” jawab Farah singkat. Ryujin tertawa kecil. “Aku tidak menyangk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD