Julian 218

838 Words

Malam itu terasa berbeda sejak awal. Tidak ada alasan yang jelas, tapi udara di dalam rumah terasa lebih tenang… lebih hangat… seolah sesuatu sedang disiapkan diam-diam. Ryujin duduk di kamar, menyisir rambutnya pelan di depan cermin. Perutnya yang sudah besar membuatnya harus duduk lebih lama dibanding biasanya. Ia menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis melihat bayangan dirinya. “Tujuh bulan…” Tangannya mengusap perut itu dengan lembut. “Aku jadi semakin besar…” Namun sebelum ia sempat melanjutkan pikirannya— pintu kamar diketuk. Ryujin menoleh. “Masuk.” Salah satu pelayan masuk dengan sopan. “Nyonya, Tuan meminta Anda turun ke ruang makan.” Ryujin mengerutkan kening. “Sekarang?” Pelayan itu mengangguk. “Iya, Nyonya.” Ryujin sedikit bingung. “Dia tidak bilang apa-apa t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD