LEONARDO CORTEZ duduk di balik kaca jendela besar ruang kantornya, menatap layar monitor yang menampilkan wajah Luna di taman rumah Julian. Gadis itu tertawa kecil, menatap matahari sore yang hangat, sementara Julian baru saja keluar dari kolam dengan handuk menutupi lehernya. Dari kejauhan, pemandangan itu seolah memperlihatkan sepasang kekasih yang bahagia, namun bagi Leonardo — itu justru menjadi bahan bakar dendamnya. Tangannya menggenggam gelas anggur merah, namun genggamannya semakin keras hingga bibir gelas itu retak dan meneteskan cairan merah ke lantai. Matanya memancarkan amarah dingin. Dia membenci Julian bukan hanya karena kekuatan atau pengaruhnya di dunia bawah tanah, tapi karena keberuntungan yang selalu berpihak padanya. Bahkan sekarang, wanita yang membuat Leonardo tertar

