Julian 125

2906 Words

Ryujin masih berdiri di sana cukup lama, tatapannya tidak lepas dari tanaman bunga yang tumbuh rapi di halaman belakang rumah tua itu. Udara Jeju yang dingin perlahan menyentuh kulitnya, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan yang basah oleh embun malam. Tanaman-tanaman itu tidak berubah. Semuanya masih berada di tempat yang sama, seolah waktu berhenti sejak hari terakhir neneknya menghembuskan napas. Langkah Ryujin maju perlahan. Tangannya terulur tanpa sadar, jari-jarinya menyentuh daun bunga yang sediykit layu di ujung. Ingatan lama menyerbu tanpa permisi. Suara neneknya yang lembut, senyumnya yang hangat, cara tangannya yang keriput tapi selalu sabar ketika mengajarkan Ryujin cara menyiram tanaman dengan takaran air yang pas. Dulu, neneknya selalu berkata bahwa tanaman akan tumbuh i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD