Malam sudah turun sepenuhnya ketika Ryujin melangkah keluar rumah dengan kantong sampah di tangannya. Lamhpu teras menyala temaram, menerangi halaman kecil yang sunyi. Udara Korea terasa dingin menusuk kulit, membuat Ryujin merapatkan jaketnya sambil melangkah cepat menuju tempat sampah di ujung pagar. Ia tidak menyangka satu langkah lagi akan mengubah ketenangan malam itu. Sosok tinggi berdiri tepat di depan pagar. Diam. Tegak. Seolah sudah menunggu. Napas Ryujin tercekat seketika. Kantong sampah hampir terlepas dari genggamannya. Wajah itu terlalu dikenalnya. Tatapan dingin itu, garis rahang keras, senyum tipis yang tidak pernah samhpai ke mata. Siwon. Jantung Ryujin berdegup kencang sampai terasa sakit. Tubuhnya menegang, nalurinya berteriak bahaya. Kakinya refleks mundur satu lan

